Gorontalo, 30 Mei 2026 — Kurikulum perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya berisi daftar mata kuliah. Di tengah perubahan dunia pendidikan dan tuntutan kompetensi lulusan yang semakin kompleks, kurikulum harus mampu menjawab satu pertanyaan penting: lulusan seperti apa yang ingin dihasilkan dan sejauh mana proses pendidikan mampu mewujudkannya?
Semangat tersebut menjadi bagian penting dalam keikutsertaan Program Studi Manajemen Pendidikan Islam (MPI), Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) IAIN Sultan Amai Gorontalo, pada Workshop Penyusunan Kurikulum Berbasis Outcome-Based Education (OBE) yang berlangsung selama dua hari, 29–30 Mei 2026, di lingkungan IAIN Sultan Amai Gorontalo.
Workshop ini mempertemukan para Ketua Jurusan (Kajur) dan Sekretaris Jurusan (Sekjur) dari berbagai fakultas dan program studi. Bukan sekadar forum penyusunan dokumen akademik, kegiatan ini menjadi ruang bersama untuk menata kembali arah pendidikan tinggi agar lebih terukur, relevan, dan benar-benar berorientasi pada kualitas lulusan.
Dalam arahannya, Rektor IAIN Sultan Amai Gorontalo menekankan pentingnya OBE sebagai pendekatan yang menempatkan capaian lulusan sebagai titik akhir sekaligus arah dari seluruh proses pendidikan. Artinya, setiap mata kuliah, materi pembelajaran, metode pengajaran, hingga sistem penilaian perlu memiliki keterkaitan yang jelas dengan kompetensi yang harus dimiliki mahasiswa ketika menyelesaikan studinya.
Selama workshop, peserta tidak hanya membahas konsep OBE, tetapi juga melakukan penataan berbagai komponen kurikulum secara lebih menyeluruh. Pembahasan mencakup perumusan profil lulusan, penyusunan Capaian Pembelajaran Lulusan (CPL), pemetaan bahan kajian, penyusunan struktur kurikulum, hingga pemetaan hubungan antara CPL dan mata kuliah.
Aspek implementasi juga menjadi perhatian. Peserta mendapatkan penguatan mengenai bagaimana kurikulum berbasis OBE diterjemahkan ke dalam pembelajaran di kelas, bagaimana capaian mahasiswa diukur melalui asesmen yang tepat, serta bagaimana evaluasi kurikulum dilakukan secara berkelanjutan agar tetap relevan dengan perkembangan kebutuhan pendidikan dan dunia kerja.
Bagi Prodi Manajemen Pendidikan Islam, workshop ini memiliki arti strategis. Perubahan kurikulum dipandang bukan semata-mata sebagai kewajiban administratif, tetapi sebagai kesempatan untuk memastikan bahwa proses pendidikan benar-benar mampu membentuk calon tenaga profesional di bidang manajemen pendidikan yang memiliki kompetensi akademik, kemampuan manajerial, integritas, serta karakter keislaman.

Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan Islam menyampaikan bahwa pengembangan kurikulum harus mampu bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan identitas keilmuan dan nilai-nilai Islam. Karena itu, kurikulum MPI diarahkan agar tidak hanya menghasilkan lulusan yang memahami teori manajemen pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan untuk merencanakan, mengelola, memimpin, mengevaluasi, dan mengembangkan lembaga pendidikan secara profesional.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah kebutuhan lembaga pendidikan terhadap sumber daya manusia yang mampu beradaptasi dengan transformasi digital, perubahan kebijakan pendidikan, dinamika organisasi, serta tuntutan peningkatan mutu lembaga pendidikan.
Melalui workshop ini, Prodi MPI IAIN Sultan Amai Gorontalo mempertegas komitmennya untuk terus melakukan pembenahan dan pengembangan kurikulum secara berkelanjutan. Kurikulum diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen akademik, tetapi menjadi peta jalan yang menghubungkan proses pembelajaran dengan kompetensi nyata yang dibutuhkan lulusan di tengah masyarakat.
Dengan semangat tersebut, penerapan kurikulum berbasis OBE diharapkan dapat memperkuat budaya mutu akademik di lingkungan IAIN Sultan Amai Gorontalo sekaligus mendorong lahirnya lulusan Manajemen Pendidikan Islam yang unggul dalam kompetensi, kuat dalam karakter keislaman, adaptif menghadapi perubahan, dan siap mengambil peran dalam pengembangan pendidikan di tingkat lokal, nasional, hingga global.
Prodi MPI
IAIN Sultan Amai Gorontalo
“Kurikulum bukan sekadar dokumen, tetapi arah untuk menghadirkan lulusan yang mampu memberi dampak.”
